SEDEKAH adalah amal mulia.
Ia memadamkan dosa.
Ia melapangkan rezeki.
Ia menjadi penolong di hari kiamat.
Namun para ulama salaf selalu mengingatkan satu hal penting.
Tidak semua sedekah diterima.
Tidak semua sedekah berpahala.
Bahkan, ada sedekah yang justru menyeret pelakunya pada azab.
Bukan karena sedekahnya.
Tapi karena penyakit hati yang menyertainya.
Berikut lima tipe orang yang suka bersedekah, namun amalnya terancam menjadi sebab kebinasaan.
1. Bersedekah untuk Mencari Pujian Manusia
Ia rajin memberi.
Tangannya ringan.
Namanya sering disebut.
Namun niatnya bukan karena Allah.
Ia ingin dipuji.
Ingin dikenal dermawan.
Ingin dihormati manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang tiga golongan pertama yang diseret ke neraka, salah satunya adalah:
“Seseorang yang bersedekah agar dikatakan dermawan. Maka dikatakan kepadanya: kamu telah dipuji. Lalu ia diseret ke neraka.”
(HR. Muslim)
Ulama salaf berkata,
“Amal tanpa ikhlas adalah seperti tubuh tanpa ruh.”
Sedekahnya terlihat hidup.
Tapi hakikatnya mati.
2. Berniat Sedekah, Namun Sengaja Menundanya
Ia sudah berniat.
Hatinya tergerak.
Namun ia tunda tanpa alasan syar’i.
Hari ini ditunda.
Besok lupa.
Akhirnya tak jadi.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Segeralah bersedekah, karena musibah tidak mendahului sedekah.”
(HR. Baihaqi)
Sebagian salaf berkata,
“Menunda kebaikan adalah salah satu pintu kegagalan.”
Niat baik yang dibiarkan terlalu lama bisa dicuri setan.
Dan niat tanpa amal, tak bernilai apa-apa.
3. Memamerkan Sedekah yang Telah Diberikan
Ia memberi.
Lalu ia ceritakan.
Ia unggah.
Ia ulang-ulang.
Allah memperingatkan dengan keras:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian merusak sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti.”
(QS. Al-Baqarah: 264)
Ibnu Abbas berkata,
“Menyebut sedekah setelah memberi lebih berat dosanya daripada menahan sedekah sejak awal.”
Sedekah yang dipamerkan,
bisa menghapus pahala,
seperti hujan deras menghapus debu di atas batu licin.
4. Terlalu Perhitungan dalam Sedekah
Ia memberi, tapi penuh hitung-hitungan.
Takut berkurang.
Takut miskin.
Takut rugi.
Allah berfirman:
“Dan barang siapa yang kikir, maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri.”
(QS. Muhammad: 38)
Hasan Al-Bashri berkata,
“Orang bakhil sebenarnya bukan takut miskin, tapi tidak percaya pada janji Allah.”
Sedekah yang keluar dari hati yang penuh curiga kepada Allah,
tak akan melahirkan keikhlasan.
5. Mengungkit-Ungkit Sedekah yang Pernah Diberikan
Ia membantu.
Namun setelah itu ia menagih balas jasa.
Ia mengingatkan penerima.
Ia menyakiti dengan ucapan.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat… salah satunya orang yang mengungkit pemberiannya.”
(HR. Muslim)
Ulama salaf berkata,
“Sedekah sejati adalah yang dilupakan oleh pemberinya, namun diingat oleh Allah.”
Mengungkit sedekah adalah tanda bahwa hati belum ikhlas sejak awal.
Penutup
Sedekah bukan sekadar memberi harta.
Ia adalah ujian niat.
Ujian hati.
Ujian keimanan.
Banyak memberi, belum tentu selamat.
Sedikit memberi, tapi ikhlas, bisa mengangkat derajat.
Mari luruskan niat.
Rahasiakan amal.
Dan takutlah bila sedekah justru menjadi saksi yang memberatkan kita di akhirat.
Sumber Inspirasi: Elis Lisda
