AIUEO.CO.ID,JAMBI, – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi merilis empat indikator strategis pembangunan daerah dalam Berita Resmi Statistik (BRS), 5 November 2026. Hasilnya memperlihatkan sejumlah perkembangan positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga kondisi ketenagakerjaan. Namun, di tengah capaian tersebut, sektor pertanian justru menghadapi tantangan dengan menurunnya produksi padi pada 2026.
Empat indikator yang dipaparkan BPS meliputi pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026, keadaan ketenagakerjaan Agustus 2026, luas panen dan produksi padi 2026, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Jambi 2026.
Ekonomi Jambi Tumbuh 3,91 Persen
Dari sisi ekonomi, perekonomian Provinsi Jambi pada triwulan III 2026 tumbuh sebesar 3,91 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp99,89 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp49,22 triliun.
Secara triwulanan (q-to-q), ekonomi Jambi tumbuh 1,98 persen dibandingkan triwulan II 2026. Pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi terjadi pada lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 11,04 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 3,35 persen.
Adapun secara kumulatif hingga triwulan III 2026, ekonomi Jambi tumbuh 4,13 persen. Lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,19 persen, sedangkan komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) tumbuh 7,68 persen.
Angkatan Kerja Bertambah, Pengangguran Masih 4,26 Persen
Pada sektor ketenagakerjaan, jumlah angkatan kerja Jambi pada Agustus 2026 mencapai 1,96 juta orang. Angka tersebut meningkat sebanyak 28,61 ribu orang dibandingkan Agustus 2025.
Penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 1,88 juta orang atau bertambah 27,37 ribu orang dalam setahun.
Lapangan usaha Administrasi Pemerintahan menjadi sektor dengan peningkatan jumlah pekerja terbesar, yakni 28,04 ribu orang.
BPS juga mencatat sebanyak 802,30 ribu orang atau 42,69 persen penduduk bekerja berada pada kegiatan formal. Persentase ini meningkat 1,40 poin dibandingkan Agustus 2025.
Meski demikian, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Jambi masih berada pada angka 4,26 persen, sama dengan posisi Agustus 2025.
Di sisi lain, persentase setengah pengangguran turun 10,05 poin, sedangkan pekerja paruh waktu meningkat 8,41 poin.
Angka ini menjadi catatan penting bahwa peningkatan jumlah penduduk bekerja perlu diikuti dengan perluasan kesempatan kerja yang berkualitas, kepastian pendapatan, dan perlindungan tenaga kerja.
Produksi Padi Turun, Ketahanan Pangan Perlu Perhatian
Berbeda dengan pertumbuhan ekonomi dan sejumlah indikator sosial, sektor pertanian menunjukkan perkembangan yang perlu mendapat perhatian serius.
Berdasarkan angka sementara hasil Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September 2026, luas panen padi Provinsi Jambi diperkirakan mencapai 79,72 ribu hektare.
Angka tersebut turun 0,66 ribu hektare atau 0,82 persen dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 80,37 ribu hektare.
Penurunan lebih besar terjadi pada produksi padi. Pada 2026, produksi diperkirakan hanya mencapai 343,39 ribu ton gabah kering giling (GKG), turun 24,40 ribu ton atau 6,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 367,79 ribu ton GKG.
Dampaknya juga terlihat pada produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk yang diperkirakan mencapai 198,64 ribu ton. Jumlah tersebut berkurang 14,12 ribu ton atau 6,64 persen dibandingkan produksi 2025 sebesar 212,76 ribu ton.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat produktivitas pertanian, menjaga keberlanjutan lahan sawah, memperbaiki infrastruktur irigasi, serta memastikan dukungan kepada petani berjalan efektif.
IPM Jambi Meningkat, Kualitas Hidup Terus Diperkuat
Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Jambi pada 2026 menunjukkan peningkatan pada seluruh dimensi pembentuknya.
Pada dimensi kesehatan, Umur Harapan Hidup saat lahir mencapai 74,62 tahun atau meningkat 0,23 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.
Di bidang pendidikan, Harapan Lama Sekolah meningkat dari 13,34 tahun menjadi 13,35 tahun. Sedangkan Rata-rata Lama Sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas meningkat dari 8,95 tahun menjadi 9,18 tahun.
Peningkatan juga terjadi pada dimensi standar hidup layak. Rata-rata pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan naik sebesar Rp414 ribu atau 3,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS menyebut pertumbuhan IPM 2026 mengalami percepatan dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan paling cepat terjadi pada dimensi standar hidup layak.
Pertumbuhan Harus Sejalan dengan Kesejahteraan
Empat indikator yang dirilis BPS memberikan gambaran penting mengenai arah pembangunan Provinsi Jambi pada 2026.
Pertumbuhan ekonomi sebesar 3,91 persen dan peningkatan IPM menjadi perkembangan positif. Bertambahnya jumlah penduduk bekerja juga menunjukkan adanya pergerakan di pasar tenaga kerja.
Namun, stagnannya tingkat pengangguran terbuka serta penurunan produksi padi menjadi pekerjaan rumah yang tidak boleh diabaikan.
Pertumbuhan ekonomi pada akhirnya perlu dirasakan masyarakat melalui kesempatan kerja yang lebih luas, pendapatan yang meningkat, daya beli yang terjaga, serta ketersediaan pangan yang memadai.
Bagi pemerintah daerah, data BPS ini semestinya tidak berhenti sebagai laporan statistik. Angka-angka tersebut perlu menjadi dasar evaluasi kebijakan, penentuan prioritas anggaran, dan penyusunan program pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Sebab, keberhasilan pembangunan bukan semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa jauh kesejahteraan masyarakat benar-benar meningkat.(*)












