AIUEO.CO.ID,KOTA JAMBI – Wali Kota Jambi, Maulana, bersama Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra, meninjau langsung progres pembangunan kolam retensi di Kelurahan Pal V, Selasa (9/12). Dalam kesempatan itu, Maulana menegaskan komitmen Pemerintah Kota Jambi untuk mempercepat proyek strategis yang menjadi salah satu prioritas program Kampung Tangguh dalam menghadapi ancaman banjir tahunan.
Maulana mengungkapkan bahwa proses pengadaan lahan kini memasuki tahap krusial. Pengumuman lahan yang telah dikaji oleh Tim Percepatan Pengadaan Lahan sudah disampaikan kepada masyarakat, dan proses verifikasi terus berlangsung.
“Sekarang sedang berproses. Insya Allah tanggal 17 kalau ada sanggahan-sanggahan, terutama terkait kawasan sepadan sungai, akan kita bahas lagi. Tim akan memastikan berapa meter yang bisa dibayarkan. Kalau masyarakat sudah sepakat, kita segera bayarkan ganti ruginya,” ujar Maulana.
Ia menegaskan bahwa Pemkot menargetkan groundbreaking proyek ini dapat dilakukan sebelum akhir tahun. Langkah percepatan ini diambil karena belajar dari pengalaman banjir besar yang melanda Jambi pada Januari hingga Februari tahun lalu.
“Kalau proyek ini jadi, insya Allah persoalan banjir besar bisa kita atasi. Kami mohon dukungan semua pihak — pemilik lahan, BPN, dan seluruh masyarakat. Kita sudah diberikan peringatan oleh Tuhan, bahwa beberapa daerah penampung air sudah tidak sanggup lagi,” tegasnya.
Maulana menjelaskan bahwa lokasi pembangunan kolam retensi tersebut merupakan titik elevasi terendah di kawasan itu. Nantinya, kolam akan digali hingga kedalaman 4,5 meter untuk menampung air dari seluruh sistem aliran Asam.
“Air itu selalu mencari titik rendah. Tidak peduli ada perumahan atau jalan, disapu semuanya kalau tidak tertampung. Maka percepatan ini wajib dilakukan. Kalau tidak, setiap tahun kita akan terus menemui warga kita yang menjadi korban banjir, dan kerugiannya sangat besar,” ujar Maulana.
Menurutnya, pembangunan kolam retensi Pal V merupakan investasi jangka panjang agar Kota Jambi siap menghadapi kondisi lima hingga sepuluh tahun mendatang.
“Kota Jambi harus berpikir jauh ke depan. Titik terendah ini harus kita optimalkan sebagai area tampungan air. Tidak ada jalan lain,” tutupnya.(*)












